Rasane Vera, Kisah Aloe Vera Yang Tengah “Naik Kelas"


Segarnya Nata De Aloe Vera dari Rasane Vera 
Glek”.

Tegukan pertama nata de aloe vera yang saya cicipi di salah satu stand Gelar Produk Pelaku UKM Yogyakarta yang dihelat di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman siang kemarin tidak hanya menuntaskan dahaga saya semata, tapi juga menggelitik rasa penasaran saya akan beberapa hal. Satu diantaranya tidak lain karena tertulis kata Nglipar pada kemasan produknya.

Saya masih ingat betul, dua belas tahun yang lalu Nglipar menjadi salah satu tempat KKN beberapa kawan saya. Salah satu kawasan di Gunungkidul yang dulunya dikenal sebagai kawasan kering kerontang ini, lha kok bisa-bisanya jadi tempat produksi berbagai kreasi olahan produk kuliner berbahan dasar aloe vera.

“Ini beneran nggak sih diproduksi di Nglipar?”, batin saya dalam hati.

Berfoto di Helatan Gelar Produk UKM Yogyakarta di Alun-Alun Sewandanan Pakualaman
Saking penasarannya, usai menicipi segelas nata de aloe vera yang saya temui di Pameran UKM yang digelar atas inisiasi oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta, saya balik lagi dong ke stand Rasane Vera. Stand yang berjualan tepat di bawah pohon beringin raksasa di Lapangan Sewandanan.

“Boleh tanya-tanya sebentar, Mas?”, ujar saya membuka pembicaraan.

“Boleh, mbak. Silahkan mau tanya apa?”, jawab si mas penjaga stand dengan ramah.

“Perkenalkan saya Alita, Mas”, sambung saya sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Saya kok penasaran dengan produk nata de aloe vera yang baru saja tandas saya cicipi ini ya. Beneran diproduksi di Nglipar, Mas?”, tanya saya kemudian.

“Iya, Mbak. Beneran diproduksi di Nglipar, tepatnya di sekitar tempat tinggal saya”, jawab mas-mas yang saya kemudian saya ketahui bernama Alan. Seorang pemuda lulusan Teknik Informatika yang memutuskan untuk pulang membangun desa.

Cerita Aloe Vera dari Kawasan Keringnya Jogja
Bersama Mas Alan, CEO Rasane Vera
Ternyata cerita brand bernama Rasane Vera ini sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Berawal dari keinginan Alan untuk membangun desa sekaligus meningkatkan pendapatan warga, ia sengaja menyisihkan sebagian tabungannya untuk membeli 500 benih lidah buaya. 

"Waktu itu lidah buayanya saya beli dari luar kota. Siapa tahu cocok ditanam di lingkungan sekitar saya, Mbak”, tambahnya di sela-sela cerita.

"Sayangnya sesampainya di Jogja, ada sekitar 50 benih yang mati. Setelah ditelisik, ternyata bibit ini sempat menginap semalam di gudang ekspedisi".

“Waktu itu saya sudah mempersiapkan tanah untuk uji coba budidaya bibit lidah buaya-nya, Mbak. Sayangnya ratusan bibit yang telah ditanam itu mati sebelum masa panen. Padahal waktu itu sudah keluar biaya sewa lahan juga”.

"Karena banyak yang mati, akhirnya bibit yang tersisa dibawa pulang lalu ditanam di sekitar rumah. Siapa tahu dengan pengawasan penuh, bibit-bibit ini bisa tumbuh maksimal".

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, sisa bibit yang ada ternyata dapat tumbuh sesuai harapan. Sejak saat itu, kami mulai memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah sebagai lahan untuk menanam lidah buaya.

“Setelah bisa dipanen, saya dan ibu mulai mencoba untuk membuat olahan dari aloe vera. Sampai tercetuslah produk bernama nata de aloe vera yang tadi Mbak Alita cicipi”, ujarnya sembari tersenyum.

“Wah, saya baru tahu lho Mas kalau di Nglipar beneran ada desa penghasil lidah buaya”, ujar saya yang masih terbengong-bengong mendengar cerita Mas Alan.

Selain nata de aloe vera, kami juga memiliki beberapa produk lain seperti cendol, dodol dan aneka makanan ringan berbahan lidah buaya.

“Saya kebagian cendolnya apa enggak nih, Mas? Penasaran mau nyicipin juga”, jawab saya sembari celingukan karena tidak melihat satupun cendol pun yang tersisa di atas meja.

“Maaf, kebetulan cendolnya nggak bawa, Mbak”, hehehe.

“Tapi tenang saja, kami sedang dalam proses penandatanganan MOU dengan salah satu pusat oleh-oleh ternama di Jogja. Nanti kalau kangen nata de aloe veranya Rasane Vera, bisa langsung meluncur ke sana”, tambahnya kemudian sembari tersenyum.

Contoh Olahan Kuliner Berbahan Lidah Buaya dari Rasane Vera

Ashiaaap, Maaas! By the way, dodolnya enak juga lho!”, ucap saya sesaat sebelum Mas Alan bercerita lebih jauh tentang usaha yang tengah ditekuninya. Cerita yang mungkin akan membuat teman-teman teracuni  oleh “ide gilanya”.

Rasane Vera, Cerita Si Lidah Buaya Yang Tengah “Naik Kelas”

Setelah tanaman lidah buaya Alan mulai memperlihatkan hasil, banyak tetangga yang mulai ikut menanam lidah buaya di sekitar pekarangan rumahnya. Sebagian hasil panen daging lidah buaya ada yang disetorkan rumah produksi Rasane Vera untuk diolah menjadi berbagai produk kuliner seperti cendol, permen, dodol, nata de aloe vera dan aneka olahan makanan ringan. Sebagian lainnya mulai diolah sendiri oleh warga sekitar.

Kemasan Nata de Aloe Vera dari Rasane Vera
“Yang melatih proses pembuatannya juga saya sendiri, Mbak. Saya percaya yang namanya rejeki tidak akan pernah tertukar. Di pikiran saya itu semakin tinggi produksi olahan lidah buaya dari desa, maka akan semakin tinggi pula pendapatan yang diperoleh warga sekitar”, terangnya yang mau tak mau membuat saya agak meleleh saat mendengar ceritanya.

Alhamdulillah, kini Rasane Vera juga tengah menjalin kerja sama dengan pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selain berharap dapat membuat pengawet alami untuk olahan pangan kami, ke depannya kami bermimpi untuk bisa membuat produk kosmetik alami dari bahan lidah buaya, Mbak”.

“Lebih jauh lagi, selain ingin meningkatkan kapastitas produksi sekaligus memperbanyak olahan yang kami buat, kami berniat untuk membuat desa wisata lidah buaya pertama di Jogja”.

Saya tersenyum sembari mengamini dalam hati apa-apa yang dicita-cita Mas Alan. Entah mengapa ada rasa iri yang hinggap di dada. Selain tergolong sukses dalam meraih mimpinya merintis start up, ia tak lupa melibatkan warga sekitar. Istilahnya sukses rame-rame, seneng bareng-bareng.

Menengok Potensi Kuliner di Era Industri 4.0

Menurut data Badan Ekonomi Kreatif, sub sektor kuliner masuk sebagai tiga sub sektor utama yang menopang pendapatan sektor ekonomi kreatif Indonesia, di samping sub sektor fashion dan kriya. Dalam hal ini, sub sektor kuliner berkontribusi hingga 40% pada pendapatan industri kreatif di Indonesia.


Oleh-Oleh Baru Favorit Ibu 
Selain branding yang tepat sasaran, di era industri 4.0 kreativitas menjadi salah satu tumpuan kesuksesan. Meski masih dalam bentuk yang terbilang sederhana, produk nata de aloe vera buatan Mas Alan dan tim adalah contoh kecil kreativitas yang disesuaikan dengan potensi alam yang ada.

Di mata orang awam, lidah buaya mungkin merupakan tanaman biasa saja. Namun di mata pengusaha ternyata beda ceritanya. Saya bisa bilang kalau produk nata de aloe vera merupakan potret olahan lidah buaya yang tengah naik kelas. Penilaian saya ini bukan tanpa alasan. 

Jika ditengok dari segi rasa, nata de aloe vera yang satu ini rasanya terbilang oke punya. Manis airnya pas, aroma pandannya enak, eh, masih ditambah biji selasih dan potongan nata de aloe vera yang cukup melimpah. Selain menghilangkan dahaga, bisa bikin kenyang juga.

Persis seperti pepatah sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui. Dengan Rp 2.500 rupiah saja, minuman ini bisa melenyapkan dahaga sekaligus menjadi pertolongan pertama saat lapar tetiba saja melanda. Oiya, satu lagi! Minuman ini terbukti aman di tenggorokan sensitif saya. Sudah murah, enak dan tidak bikin batuk pula! Oke, sip! Langsung bungkus sepuluh!


Nata De Aloe Vera Dalam Dua Rasa, Kiri Rasa Leci dan Kanan Rasa Pandan

Meski dari segi rasa, kualitas dan bahan pembuatan sudah oke punya, namun kemasan nata de aloe vera rasa-rasanya perlu ditingkatkan. Jika bisa memilih, asal kemasannya dibuat lebih menarik, sebagai konsumen saya rela untuk membeli nata de aloe vera dengan harga yang lebih mahal. 

Kalau saat ini kemasan gelas sebesar 220 ml dijual dengan harga Rp 2.500, saya oke-oke saja untuk membeli nata de aloe vera dalam kemasan 600-750 ml dengan kisaran harga Rp 10.000, hingga Rp 15.000. Selain dibuat dengan bahan alami, minuman segar ini ternyata sudah memiliki ijin P-IRT juga. Lengkap, bukan?

Untuk review dodolnya, rasa-rasanya saya belum menemukan kekurangannya. Dari segi rasa, Dodol Aloe Vera dengan brand "Assakhoya" ini terbilang enak dan tidak eneg. Lagi-lagi, tenggorokan saya tidak gatal usai ngemil dodol Nglipar ini. Kabar baiknya, Dodol Assakhoya sudah punya ijin P-IRTnya juga. Mantab, kan?

Kacang Pedas Lyna
Selain mencicipi nata de aloe vera dan dodol lidah buaya Rasane Vera, saya sempat mencicipi Kacang Pedas “Lyna”. Olahan kacang yang sudah diproduksi sejak tahun 1998 ini mau tak mau membuka memori lama saya akan jajanan tradisional yang dulu kerap saya temukan saat duduk di bangku sekolah dasar. Mengagetkannya, 20 keping kacang pedas ini hanya dibanderol dengan harga Rp 12.500 saja. Kebayang kan berapa harga sekepingnya? Hehe.

Meski terlihat begitu sederhana, nyatanya Kacang Pedas “Lyna” dapat bertahan hingga berpuluh tahun kemudian.

“Kualitas memang tidak pernah bohong”, ucap saya dalam hati.


Kacang Pedas Lyna yang Rasanya Oke Punya
Selain berjualan dari ajang pameran ke pameran, ternyata Kacang Pedas “Lyna” sukses menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, mulai dari aneka toko oleh-oleh di Jogja hingga beragam tempat makan yang tersebar di berbagai sudut Kota Bakpia. Jadi jangan heran jika suatu sata nanti, teman-teman akan menemukan Kacang Pedas “Lyna” di toko ataupun warung makan langganan.

Menariknya lagi, acara yang diikuti puluhan pelaku kreatif dari Kota Gudeg ini juga dimeriahkan oleh penampilan asyik para musisi akustik dan kesenian jathilan "Lembayung Senja". Tak heran jika acara pameran yang digelar selama dua hari berturut-turut ini mampu menyedot perhatian para para penikmat kuliner hingga pecinta kesenian tradisional.

Terima kasih banyak Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta untuk helatan Gelar Produk UKM Yogyakarta kali ini. Selain dapat nyicipin olahan pangan kreasi kawan-kawan penggiat UKM di Jogja, saya jadi bisa reuni rasa dengan salah satu cemilan favorit saja yang sudah lama hilang dari pangkuan.


Salam nyam-nyam,
-Alita-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar